Assalamu’alaikum wr. wb.
Haii !! *tebar ikan asin(lagi)
#Kabur sebelum diamuk massa
Saya datang lagi dengan beberapa poting-an
yang sekiranya insya allah bermanfa’at bagi saya, anda semua dan kita ..
Ah, baiklah .. daripada bercuap-cuap yang
tak jelas lebih baik kita langsung membahas inti dari artikel saya ini ..
Di artikel ini, saya akan menjelaskan asal
usul dari 2 jenis makanan dengan spesies (?) yang sama namun memiliki asal usul
yang berbeda dan perbedaan yang sangat jelas terlihat.
Umm.. Permen. Apa kesan pertama yang
kalian rasakan saat memakannya ? Manis. Ya ! karena terkandung glukosa/gula
didalamnya. Baik permen biasa maupun permen karet. Tapi taukah kalian asal usul
dari kedua makanan manis –permen dan permen karet- tersebut ? nah, disini saya
akan menjelaskan sedikit asal usulnya satu persatu. Dimulai dari ..
Siapa sih yang mula-mula membuat
permen ? Wah, tidak ada yang tau tuh.
Habis sudah lama sih ! Resep permen sudah tertulis di makam Firaun (Raja Mesir
Kuno) Tutankhamen dan Ramses yang hidup 40 abad silam. Dulu, Permen dibuat dari
madu, dan rempah yang ditambah biji-bijian supaya terasa gurih.
Ketika Iskandar Agung dari
Masedonia menaklukan Persia (kini Iran), 24 abad yang lalu, diketahui
tentaranya suka sekali mengisap-isap(?) kand.
Permen primitive itu adalah tangkai tanaman yang dicelup ke madu dicampur
rempah dan zat warna. Karena madu susah diperoleh, permen menjadi barang mewah
pada saat itu. Ketapa tidak pakai gula ? Karena, saat itu manusia belum
menemukan gula.
Pada abad ke-3 / ke-4 manusia
bisa membuat gula tebu di Persia yaitu pada masa Ayyubiyah berkuasa (lihat pada buku SKI kelas 8
halaman 71). Pengatahuan ini menyebar ke Arab, Afrika Utara dan Eropa.
Permen pun mulai dibuat dari gula.
Dalam bahasa inggris, permen
disebut Candy. Mungkin berasal dari kata Kand (Permen sedadau Iskandar Agung itu).
Pada akhir abad ke-15, Colombus memperkenalkan tebu dari benua Amerika
ke berbagai tempat. Bemunculanlah perkebunan tebu dan pabrik gula di daerah
tropis. Abad XIX, di zaman Kaisar Napoleon, produksi gula bit digalakkan di
Eropa. Di seluruh dunia gula mencadi lebih banyak dan lebih murah harganya.
Pertengahan abad ke-19 manusia
mulai mampu membuat mesin-mesin canggih pebuat permen. Permen bisa dibuat lebih
banyak dan murah. Kira-kira seabad kemudian, permen dapat ditemukan
dimana-mana.
Di Indonesia dulu, permen
disebut “Kembang Gula” atau “Gula-gula”. Kata “Permen”
hanya digunakan untuk menyebut permen rasa peppermint yang putih, pipih, bulat
dan pedas. Entah bagaimana, kata permen bisa menggantikan kata “Kembang
Gula” dan “gula-gula”.
PERMEN
KARET.
Telah
beribu tahun lamanya penduduk Laut Tengah di Eropa suka mengunyah getah pohon mastic. Konon untuk menyegarkan napas dan menbdersihkan
gigi. Orang Indian Kuno di Jazirah Yucatanyang berada dibenua Amerika pun punya
kebiadaan yang sama. Namun, getah yang mereka kunyah berasal dari getah pohon
sawo. Kebiasaan menguyah juga dilakukan orang Eskimo dekat Kutub Utara. Apa
yang merka kunyah ? Jawabannya yaitu .. Lemak Ikan !
![]() |
| William Wrigley, Jr |
Pengusaha permen karet yang paling terkenal adalah William Wringley, Jr. Padahal, tadinya ia anak yang malas
bersekolah dan selalu membuat ulah. Sampai-sampai pada umur 12 tahun (1873),
Wringley dikeluarkan dari sekolah. Namun ia bukan anak yang malas bekerja. Ia
membujuk ayahnya agar diperbolehkan menjajakan sabun buatan pabrik keluarga.
Ternyata, ia salesman yang rajin dan ulet. Ia juga menjajakan barang lain
seperti baking powder (bahan untuk membuat kue). Orang yang
meau membeli sekaleng baking powder, diberinya hadiah dua permen karet.
Permen karet ternyata banyak
peminatnya, sehingga Wringley khusus berjualan permen karet. Walaupun dilanda
berbagai kesulitan, seperti saat terjadi krisis ekonomi dunia. Ia tidak
menyerah membuat usahanya maju sampai sekerang.
![]() |
| Henry Fleer |
Ada dua orang lain yang berperan
besar dalam sejarah permen karet. Henry
Fleer, pada tahun 1910 berhasil member “baju” pada permen karet. Lapisan
itu putih, manis dan renyah. Ia menamai permen karet berbeju itu dengan nama “Chiclets”.
Sedangkan Frank (saudara dari Henry Fleer), setelah
lama bersusah payah akhirnya ia berhasil membuat permen karet yang bisa ditiup
hingga menggelembung besar seperti balon yang dinamai dengan bubble gum (karet gelembung).
Karena mengunyah permen karet
dianggap berkhasiat menenangkan, maka tentara Amerika Serikat pada Perang Dunia
II dibekali permen karet. Amerika Serikat bahkan menjatuhkan permen karet dari
pesawat terbang di Filipina ketika negara itu diduduki Jepang. Pada kemasan
permen karet itu tertulis janji dari Jenderal Douglas Mac Arthur, yaitu “I
will return” (Saya akan kembali).
![]() |
| Jend. Douglas Mac Arthur |
Sejak Perang Dunia II, permen
karet tidak lagi dibuat dari getah pohon sawo, tetapi dibuat dari bahan
sintetis.
Di Amerika Serikat mulanya
mengunyah permen karet di muka umum dianggap kebiasaan yang menjijikan, karena
dianggap seperti ternak yang sedang memamah biak. Setelah perubahan zaman,
permen karet bukan hanya dibekali oleh tentara, tetapi bintang-bintang olahraga
seperti Michael Jordan pun sangat akrap dengan permen yang dikunyah-kunyah itu.
Sekarang, permen karet boleh dikunyah dimana-mana, kecuali saat beribadah,
didalam kelas, dan pada kesempatan resmi.
Di dunia ini ada negara yang
tidak suka penduduknya mengonsumsi permen karet. Jika ketahuan membuang sisa
permen karet di tempat umum, dendanya tak tanggung-tanggung, yaitu senilai
beberapa juta rupiah. Menurut mereka, sulit membersihkan jalan, bangku, dan
sebagainya dari sisa permen karet yang menempel. Padahal mereka ingin negara
mereka bersih. Ya, Negara itu adalah tetangga kita yaitu .. Singapura !!!
Sekedar saran dari saya. Kalau
kalian ada kesempatan pergi kesana dan apabila kalian memiliki tangan yang
jahil, lebih baik jangan berbekal permen karet jika tak ingin mendapat denda.
;))
Sip ! Akhirnya selesai juga
pembahasan tentang asal-usul kedua jenis makanan tersebut. Dengan begitu
berkahir juga postingan saya kali ini. Sekian dari saya, kurang dan bingungnya
(?) mohon dima’afkan.
Wassalamu’alaikum wr. wb.







0 komentar:
Posting Komentar