" Walaupun waktu terus berjalan, meninggalkan kejadian yang pernah terjadi.
Kejadian dimana saat kau dan aku bersama.
Kejadian yang pernah terjadi tak akan hanya menjadi sekilas memori, namun akan kubuat menjadi sebuah sejarah menakjubkan yang pernah kita buat bersama.
Kejadian manis dan pahit yang kita lewati tak akan bisa terlupakan begitu saja.
Walaupun bertahun-tahun kujalani hidup, kejadian itu tak akan pernah hilang dan terhapus dari ingatanku.
Walaupun lama kelamaan akan menjadi sebuah kenangan~ ... "
Kejadian dimana saat kau dan aku bersama.
Kejadian yang pernah terjadi tak akan hanya menjadi sekilas memori, namun akan kubuat menjadi sebuah sejarah menakjubkan yang pernah kita buat bersama.
Kejadian manis dan pahit yang kita lewati tak akan bisa terlupakan begitu saja.
Walaupun bertahun-tahun kujalani hidup, kejadian itu tak akan pernah hilang dan terhapus dari ingatanku.
Walaupun lama kelamaan akan menjadi sebuah kenangan~ ... "
========================================================================
Author : Fiyata Tri Septian.
Author : Fiyata Tri Septian.
Cast : you can find in the story. J
Genre : Sad, Friendship, and .... Gaje.
Disclaimer :
FF tak jelas ini milik author. FF ini author sendiri yang ngetik, mikir, mumet,
pusing, pening, dan segala gejala saat membuat FF ini. Ini FF tugas yang
sengaja saya posting agar kalian bisa mengkritik hasil karya yang tak jadi ini.
Jadi mohon bantuannya agar saya dapat membenahi kesalahan yang telah diperbuat.
Semua Author POV. Ada sedikit pengeditan jadi sedikit ada perbedaan dari cerita
yang sebenarnya saya buat.
No Copas, No
Bash, Nothing Nothing !#Plakk.
Recommended
Song : Super Junior – Reminiscence
U-Kiss - 0330
U-Kiss - 0330
And other.
Reminiscence –Oneshoot-
Terlihat
seorang gadis cantik berdiri didepan suatu ruangan. Ia memutar gagang pintu
dengan perlahan. Sebelum memasukinya, ia terlihat sedang melihat setiap sudut
ruangan dengan tatapan yang tak dapat dijelaskan. Tak berapa lama ia pun
memasuki ruangan tersebut.
Ruangan yang tidak
terlihat buruk. Masih terlihat teratur walau telah dimakan usia. Dengan sedikit
membongkar tumpukan kardus,mulai terukir senyuman manis dari bibirnya. Sorotan
matanya terlihat lega setelah ia mendapatkan barang yang dicarinya. Sambil
memegang buku diary tua yang mulai lusuh, ia pun mulai melangkahkan kakinya
keluar dari ruangan itu.
Gadis itu
memutuskan untuk duduk di bangku taman kota yang cukup sepi, hanya terlihat
beberapa orang sedang berjalan-jalan santai sambil menikmati udara pagi. Udara
cukup sejuk karena sekarang adalah awal musim semi di sebuah desa yang cukup
jauh dari pusat ibukota London.
Ia mulai
teringat akan benda yang sedari tadi dibawanya. Ia pun mulai membuka buku diary
tersebut lalu membacanya. Sejenak, ia mulai terhanyut didalamnya ..
xxxxx
“Diary Yukiko ..
Hari ini aku mengis lagi. Bukan karena aku
terjatuh dari Horvy, kuda poniku. Tapi kali ini lebih buruk. Grandpa pergi..
Grandpa pergi meninggalkanku jauh .. Aku takut ..
Grandpa orang yang sangat baik kepada semua orang..
hingga banyak orang yang datang menghadiri pemakaman Grandpa .. dan banyak pula
yang bersedih atas kepergian Grandpa-ku .. Dan juga termasuk aku ..
Grandpa yang selalu menemaniku bermain bersama
Horvy. Horvy adalah kuda poni yang diberikan Grandpa saat ulang tahunku yang
ke-10.
Aku sangat menyayangi Grandpa .. Aku menangis dan
berlari menerobos kerumunan orang yang mengantarkan Grandpa ke tempat
terakhirnya.. Tanpa sadar, kakiku terus berlari sampai ke tempat tersembunyi
yang pernah Grandpa tunjukkan padaku beberapa hari sebelum kepergiannya .. aku
menangis disana .. sampai aku bertemu dengannya ...”
xxxxx
Seorang gadis
kecil terlihat mengis tersedu-sedu dipinggir danau. Ia menagis sebelum sempat
melihat kakek yang sangat ia cintai diantarkan tempat terakhirnya. Ia begitu
terpukul atas kepergian kakeknya. Ia tak tahu harus bagaimana lagi. Hanya
kakeknya lah yang paling mengerti dia.
“Hiks .. Hiks
..” Tangisnya. Perlahan gadis kecil itu mengambil batu kecil dan melemparkanya
kearah danau berkali-kali. Sampai kegiatannya pun berakhir ketika tiba-tiba ada
seseorang yang meneriakinya.
“Hei ! Jangan
lempar batu itu lagi. Kamu tidak melihat ikan-ikan kecil itu ? Saat kamu sedang
sakit, jangan buat orang lain sakit juga donk ! Apa kamu tidak kasihan pada
ikan-ikan yang kau lempari oleh batu itu ?” Ucap anak lelaki yang sedari tadi
berdiri tak jauh dari gadis kecil itu lalu mulai berjalan mendekatinya.
Gadis kecil
itu menghentikan sejenak tangisannya. Terlihat berpikir. Lalu kemudian kembali
menangis namun kali ini lebih keras. Lantas anak lelaki yang meneriaki gadis
itu pun mulai panik.
“He..Hei!!
Kenapa meangis ? Apa aku menyakitimu ?!” Tanya anak lelaki itu polos. Masih
dengan tangisannya, gadis itu pun lantas menggeleng keras. Ia menghentikan
sejenak tangisannya lalu menghapus air mata yang membasahi wajahnya.
“Ti..Tidak !
Kamu tidak menyakitiku .. Bukan salahmu ! Aku tidak bermaksud untuk menyakiti
ikan-ikan kecil itu .. Aku hanya ..Aku .. Akuu .. Huaa !!” ucap gadis itu lalu
kembali mengis sambil menutupi wajahnya. Anak lelaki itu pun tertawa sejenak
melihat tingkah laku gadis kecil itu, lalu mulai duduk di sisinya.
“Ya!! Tak
perlu menangis .. sudahlah .. kamu tak perlu menangis seperti itu .. kamu
cengeng sekali ternyata .. aku tadi hanya bercanda .. jangan berlebihan ..”
ucap anak lelaki itu enteng sambil menepuk kepala gadis kecil itu pelan.
Setelah
mendengar ucapan Anak lelaki itu, gadis kecil pun perlahan menghentikan
tangisannya dan mulai mengangkat wajahnya. Gadis kecil itu melihat wajah anak
lelaki itu sedang tersenyum jahil kepadanya. Gadis itu mulai menatap tajam anak
lelaki yang ada disisinya saat ini, seakan ingin menerkam anak lelaki itu dan
membunuhnya seketika. Wajahnya terlihat memerah menahan emosi.
“Pletakk”
gadis itu memukul keras kepala anak lelaki itu hingga anak lelaki itu meringis
kesakitan.
“Kyaa!! Kamu
membodohiku ?? jangan hanya karena tubuhmu lebih besar dan tinggi dariku ..
kamu bisa membodohikan anak kecil sepertiku ... keterlaluan ..!!” teriak gadis
kecil itu penuh emosi lalu pergi menjauh.
“He..hei !!
tunggu .. aku tidak bermaksud untuk membodohimu .. hei ! tunggu ..” teriak anak
lelaki itu namun tidak dihiraukan gadis kecil tadi.
xxxxx
“Diary Yukiko ..
Aku bertemu lagi dengan anak lelaki itu .. anak
lelaki yang menyebalkan ! tapi dalam keadaan yang berbeda .. dia sendirian di
danau itu .. menangis .. tanpa ada suara ..
Seperti ada sesuatu masalah besar yang menimpanya
saat ini .. Apa yang terjadi dengannya ?? Dan aku mulai berkenalan dengannya ..
ternyata dia orang yang sangan baik dan menyenangkan ..”
xxxxx
Gadis kecil
itu kembali pergi mendatangi danau itu esok harinya. Ia mengaku sangat
merindukan kakeknya. Entah mengapa ia teringat oleh danau itu dan tanpa sadar
berjalan ke tempat itu.
Sesampainya
gadis kecil itu di danau. Memandangi keindahan danau itu disetiap sudutnya.
Hingga akhirnya ia tersadar bahwa dirinya tidak sendiri di danau itu. Ia
mencoba menyipitkan matanya yang memang sudah sipit itu untuk memastikan lebih
detail siapa orang yang duduk di pinggir danau seorang diri.
Ia memutuskan
untuk berjalan dan mendekati orang itu. Ia sedikit terkaget saat mengetahui
bahwa orang yang duduk di pinggir danau adalah anak lelaki yang meneriakinya
kemarin sore sehabis ia mengantarkan kakeknya ke pemakaman.
Namun yang
membuatnya lebih terkejut lagi adalah .. Anak lelaki itu sekarang tengah
menangis tak bersuara, hanya tubuhnya yang duduk meringkuk terlihat gemetar.
Gadis kecil itu merasa bingung lalu memutuskan untuk menegurnya.
“Ehem ..
ma’af .. sedang apa sendirian disini ?? Kamu menangis? Apa ada yang
menyakitimu..” Tanya gadis kecil itu dengan polosnya.
Anak lelaki
yang mendengar pertanyaan itu pun langsung mengadah menatap orang yang berdiri
disisinya itu. Dengan wajah basah dan mata yang mulai lebam karena air matanya,
ia menatap wajah gadis kecil yang masih berdiri disisinya. Gadis kecil itu
tersenyum kecil kepada anak lelaki itu, hingga membuat wajah anak lelaki itu
memerah akibat malu.
“Ya! Ternyata
anak lelaki sepertimu bisa cengeng juga .. ku kira kamu tidak pernah menangis
..” ejek gadis kecil itu masih dengan senyumannya. Anak lelaki itu hanya bisa
menunduk dan mulai menyeka air matanya.
“Kamu sedang
apa disini ?? Kenapa kamu tiba-tiba datang dan mengejekku seperti itu ? aku
tidak butuh komentar darimu ..” ucap anak lelaki itu acuh.
“Kya! Aku
tidak bermaksud untuk mengejekmu kok ! Aku hanya tidak menyangka saja .. apa
kau sedang ada masalah .?” Tanya gadis kecil itu penuh hati-hati.
“Apa
perdulimu ? Ini tidak ada urusannya denganmu .. tak perlu sok baik begitu
padaku .. Aku tak butuh !” Ucap Anak lelaki itu tajam dan dingin. Membuat gadis
kecil itu emosi.
“Hei ! Aku
hanya bertanya baki-baik padamu .. kenapa kamu begitu dingin padaku ? apa aku
ada salah ? Jika kamu tidak mau cerita ya sudah ..” ucap gadis kecil itu mulai
emosi. Anak lelaki itu terdiam sejenak. Terlihat berpikir. Wajahnya terlihat
pucat. Sejenak ia berpikir sambil menatap danau dengan tatapan yang tak dpat
dijelaskan.
“Bisakah aku
mengenalmu terlebih dulu ? aku Jonathan Shone. Kau bisa memanggilku Joe. Nama
mu ?” ucap Anak lelaki yang ternyata bernama Joe itu sambil mengulurkan
tangannya ke arah gadis kecil yang masih berdiri di sisinya.
“Yak ! kamu
ini aneh sekali .. tadi dingin kepadaku , sekarang malah mengajakku
berkenalan..” jawab gadis kecil itu tanpa menyambut jabatan tangan dari Joe.
“Ma’af ..
tapi bisakah aku mengenalmu dulu ? sejak pertama bertemu kita tidak pernah
berkenalan..” ucap Joe sambil tersenyum manis kearah gadis kecil itu. Gadis
kecil itu hanya menatap ke arah danau dengan wajah datar. Joe hanya menautkan
alis. Tiba-tiba gadis kecil itu pun membalas jabatan tangan Joe, lalu duduk
disebelah Joe sejajar dengannya dan tersenyum sangat manis.
“Perkenalkan
namaku Yukiko Melody. Kata ayah, itu nama yang diberikan oleh Grandpa saat aku
lahir. Kedua orangtuaku memanggilku dengan nama Yuki. Aku keturunan Jepang dari
ibuku .. Sedangkan ayahku, asli London.. jika diartikan, namaku terdiri dari
Yuki yang artinya musim dingin dan Melody artinya lagu/nyanyian. Jadi, arti
dari namaku adalah alunan lagu dimusim dingin. Grandpa yang menjelaskannya.”
Jawab Gadis kecil yang ternyata bernama Yuki itu panjang lebar dengan senyuman
ceria dan terlihat sangat manis. Membuat Joe terpaku sejenak melihat senyuman
itu.
“Hei! Kamu
kenapa menatapku seperti itu ?Apa aku terlihat begitu aneh ?” Tanya Yuki sambil
mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajah Joe. Joe tersadar dari lamunannya
dan mulai salah tingkah.
“Ti..tidak ..
tidak ada apa-apa ..” ucapnya sambilkan memalingkan wajahnya yang mulai memerah.
Yuki menautkan alisnya sambil meneliti apa yang terjadi.
“Wajahmu
memerah .. apa ada masalah ? atau .. Kamu menyukaiku ?? Hahaha ..” canda Yuki
membuat mata Joe terbelalak dan terdiam setelah mendengarnya. Wajah Joe semakin
memerah, keringat dingin mulai bercururan. Namun Yuki masih saja terus
mengejeknya.
“Ya ! kamu
terlalu percaya diri.. mana mungkin aku menyukai seorang anak kecil sepertimu
?” ucap Joe gugup.
Yuki terdiam
sejenak. Lalu mulai tertawa. Membuat Joe menautkan alisnya tanda bingung. Yuki
masih tertawa lalu tertidur berguling-guling diatas rerumputan sambil memegangi
perutnya.
“Ya .. Kamu
kenapa tertawa seperti itu ? Apakah ada yang lucu ?” ucap Joe sambil menatap
Yuki penuh tanya.
Yuki
menghentikan tawanya kemudian berdiri. Ia menghapus air mata yang sempat keluar
karena tertawa. Ia menyunggingkan senyum sambil menatap Joe penuh misteri.
“Huh .. kamu
ini sangat aneh.. kemarin berani-beraninya membodohiku, lalu tadi meangis
sendirian disini, lalu mengajakku berkenalan, setelah itu memberi tatapan aneh
kepadaku, setelah itu wajahmu memerah dan terlihat sangat gugup ..!! apa kamu
tau jika itu sangat aneh .. kamu seperti memiliki banyak kepribadian ..” ucap
Yuki panjang lebar.
“Ya! Apa kamu
bilang ? aku memiliki banyak kepribadian ?? Yak! Aku tidak terima itu..” protes
Joe. Yuki yang merasakan sesuatu akan terjadi lalu lekas berlari menjauhi Joe.
Sebelum berlari ia sempat menjulurkan lidahnya kepada Joe lalu tersenyum kecil.
“Hei ! jangan
lari .. anak ini benar-benar.. Yak !! tunggu aku ..” teriak Joe lalu mulai
mengejar Yuki. Alhasil mereka saling kejar-kejaran di pinggir danau itu.
xxxxx
“Diary Yukiko ..
Jonathan Shone .. dia sahabatku selama beberapa
hari ini setelah kepergain Grandpa .. kami sering bertemu dan bermain bersama
di pinggir danau yang kami namai ‘Reminiscance Lake’ .. karena bagi kami danau
itu mempunyai kenangan tersendiri .. entah kenangan kami berdua .. maupun
kenangan ku bersama Grandpa ..
Grandpa .. Yuki sangat rindu pada Grandpa .. apa
Grandpa juga merindukan Yuki ? Grandpa .. Yuki miss you so much .. Joe selalu
menemaniku .. dia selalu membuatku ceria dan tidak bersedih lagi ..
Tapi, kemarin aku tidak bisa ke danau itu karena
hujan turun sangat deras. Padahal aku dan Joe sudah berjanji akan datang ..
tapi ibu melarangku .. jadi aku putuskan untuk meminta ma’af pada Joe sore ini
.. semoga dia tidak marah padaku ..”
xxxxx
“Joe .. Joe
.. !! Kamu dimana ??” teriak Yuki setelah sampai di pinggir danau.
Ia mencari
Joe disekeliling danau, Namun ia tak menemukannya. Biasanya Joe telah sampai di
danau lebih dulu sebelum Yuki. Tapi, sudah 3 kali berkeliling, Yuki tak kunjung
menemui Joe. Yuki mulai lelah .. matahari sudah mulai menuju tempat
tenggelamnya. Yuki takut jika ibu dan ayah-nya khawatir, karena itu Yuki menghentikan
pencariannya mencari Joe dan pulang ke rumah dengan wajah ditekuk.
xxxxx
“Diary Yukiko...
Aku sedih.. Joe sepertinya sangat marah padaku
hingga dia tak datang ke danau hari ini .. padahal aku ingin minta ma’af tapi
dia tidak datang .. semarah itukah dia padaku ?”
xxxxx
Sudah
beberapa hari ini Yuki termenung sendirian di pinggir danau tanpa Joe. Joe
menghilang begitu saja bagai ditelan bumi. Entah mengapa, Yuki mulai merasa ia
tidak akan pernah bertemu dengan Joe lagi. Perasaan Yuki benar-benar campur
aduk.
Yuki menatap
danau datar. Dalam diam Yuki mulai mengingat kejadian yang terjadi selama ia
bertemu dengan Joe.
Saat Yuki
sedang berkabung atas kematian kakeknya. Saat Yuki melihat Joe menangis
sendirian di pinggir danau ini. Saat mereka pertama berkenalan. Saat mereka
tertawa dan bercanda bersama. Saat mereka bermain bersama. Yuki sangat
merindukan Joe.
“Aku menyukai
Joe ..” ucapnya lirih.
Sesaat seelah
ia mengucapkan kata-kata itu. Matanya membulat, ia menutup mulutnya rapat-rapat
dengan kedua tangannya. Ia tak mengerti dengan apa yang dikatakannya barusan.
Wajahnya memerah. Ia pun sadar hari sudah mulai gelap. lalu segera berlari
pulang kerumah. Sebelum kedua orang tuanya khawatir.
xxxxx
“Diary Yukiko ..
Aku tak menyangka .. Aku mengucapkannya .. itu
kata-kata yang tak begitu ku mengerti .. ‘suka’ atau ‘cinta’ .. Apakah
kata-kata itu sudah pantas di ucapkan di umurku yang beranjak 12 tahun ini ? sepertinya sih, Joe memang sudah
pantas .. dia berumur lebih tua 2 tahun dari pada aku ...
Tapi kenapa dia menghilang ? selama lebih dari
seminggu ini .. aku tak pernah melihatnya .. Joe bagai ditelan bumi .. ia tak
pernah memberi kabar padaku .. Perasaanku tidak merasa enak .. Joe ..”
xxxxx
Yuki kembali
menyusuri danau itu. Ia tampak sedih .. sudah hampir 2 minggu .. tapi Joe tidak
memberi kabar ataupun terlihat datang ke danau itu .. Yuki mulai putus asa.
Hingga ia
melihat seseorang sedang berdiri dipinggir danau. Menatap setiap sudut danau dengan
tatapan yang tak bisa dijelaskan.Yuki menyipitkan matanya dan mulai mereka-reka
siapa orang itu. Dan mulai mendekati orang itu.
Seorang
lelaki berpostur tubuh tegap dan tinggi. Rambut yang tidak terlalu rapi. Kulit
yang putih bersih. Mata yang terlihat tenang namun menyimpan makna nidalamnya.
Menggunakan sweater berwarna abu-abu. Dipadukan dengan celana panjang berwarna
hitam. Terlihat begitu menawan.
Yuki
terkaget. Matanya memerah. Lidahnya terasa kelu. Ia menutup mulutnya rapat
dengan kedua tangannya. Tanpa sadar ia langsung memeluk lelaki itu.
“Joe!! Kamu
kemana saja ?? Aku sangat merindukanmu .. kenapa kau tak member kabar padaku,
hah ?? Kamu jahat ..” ucap Yuki masih memeluk lelaki itu. Yuki mulai menangis.
Namun senyuman mulai terukir dibibirnya.
“He.. Hei!
Ma’af .. bisa lepaskan pelukanmu .. sepertinya kau salah orang .” ucap lelaki
itu pada Yuki. Lantas Yuki langsung melepaskan pelukannya.
“Ya! Apa kamu
bilang ? Salah orang ? Kamu memang orang yang aneh. Kamu mulai suka berbohong
padaku .. apa kamu amnesia ? Haha tidak lucu Joe ..” ucap Yuki sambil menghapus
air matanya.
“Joe ? Ma’af
.. namaku bukan Joe .. Aku ini Vino .. Alvino Shone .. Apa yang kamu maksud itu
Joenathan Shone, kembaranku ?” Tanya lelaki yang mengaku bernama Vino itu.
“Hah ?? Vino
? *mengingat sejenak* APA ?? SAUDARA KEMBAR ?? Kamu dan Joe saudara kembar ??
tidak mungkin ..” Tanya Yuki tak percaya.
“Tidak ada
yang tidak mungkin .. aku ini memang Vino .. sedangkan Joe itu kembaranku ..
tepatnya adik kembarku..” ucapnya sambil tersenyum manis ke arah Yuki. Senyuman
itu, sedikit berbeda dengan senyuman Joe.
“La..lalu ..
Joe kemana ?? kenapa selama 2 minggu ini dia tidak pernah memberi kabar ? apa
dia sengaja membohongikuku lagi ?? dan kenapa kamu bisa ada di Reminiscance
Lake ini ?” Tanya Yuki. Vino hanya tersenyum kecut. Tampak sorotan mata
penyesalan dan sakit.
“Joe .. Joe
sudah tidak ada .. dia pergi .. Pergi dari dunia ini .. dia pergi dan tak akan
kembali .. dan aku kesini atas permintaan Joe untuk memberikan surat ini kepada
‘teman’-nya yang selalu ia temui di danau yang sering ia dan ‘temannya’ itu
sebut-sebut sebagai Reminiscance Lake ini. Karena itu aku ada disini. Jika
benar kau adalah temannya Joe, Joe memintaku memberikan ini padamu..” ucap Vino
sambil memberikan sepucuk surat berwarna merah kepada Yuki.
Yuki masih
terdiam mencoba mencerna apa yang dikatakan Vino barusan. Tanpa sadar air mata
Yuki mulai turun. Yuki membekap mulutnya dengan kedua tangan. Ia tak percaya
akan bahwa Joe, yang selama ini menemaninya telah tiada. Disaat Yuki mulai
menyukai Joe. Joe malah meninggalkan Yuki dengan cara seperti ini.
“I..Ini tidak
mungkin .. Kamu pasti berbohong .. Ini pasti hanya mimpi .. Joe tak mungkin
secepat itu meninggalkanku .. tidak mungkin ..” ucap Yuki masih tak percaya
pada kenyataan didepannya. Vino mengajak Yuki duduk di rerumputan pinggir danau
dan mulai berbicara.
“Yuki .. Dua
miggu yang lalu saat hujan deras .. Joe menunggumu didanau ini .. kau tau ?
penyakitnya dapat kambuh jika ia kehujanan maupun terlalu lelah .. penyakit
yang sudah dideritanya beberapa tahun ini .. Awalnya ia masih sempat dibawa
kerumah sakit didaerah ini .. namun dokter menganjurkan agar Joe dirawat di
rumah sakit pusat di London yang perlatannya lebih lengkap. Tepat seminggu yang
lalu .. Joe sadar dari tidurnya, ia bercerita padaku tentang apa yang ia
lakukan selama ini, tentang kejadian-kejadian yang menimpanya sebelum ini,
tentang Reminiscance Lake, juga tentang kamu Yuki .. Ia tersenyum bahagia saat
menyebut namamu .. Ia terlihat bersemangat saat menceritakan kejadia-kejadian
yang kalian berdua alami .. Wajahnya mulai memerah dan senyuman bahagia itu
muncul saat dia bilang padaku bahwa dia sangat menyukaimu Yuki ..” ucap Vino
panjang lebar namun belum selesai Vino berbicara, Yuki mulai berlari
meninggalkan danau itu dan meninggalkan Vino sendiri di danau itu. Disaat
punggung Yuki sudah tidak terlihat lagi , Vino tersenyum dan mulai meneteskan
airmata yang ditahannya sedari tadi.
“Joe adikku
tersayang .. Aku sudah menjalankan permintaanmu ini .. ku harap kau bahagia di
alam sana .. jangan pikirkan Yuki lagi .. Jangan merasa bersalah lagi .. karena
ini akan membuatku semakin terpukul, Joe ..” ucap Vino dengan suara serak.
Bayangan senyuman Joe tergambar dalam pikirannya ..
xxxxx
“Diary Yukiko ..
Ini semua hanya mimpi .. Joe tak mungkin
meninggalkanku dengan cara seperti ini .. Joe tak mungkin pergi begitu saja ..
aku tak percaya .. ini semua bohong ! Kamu Jahat Joe .. Kukira kita teman ..
tapi kenapa kamu menutupi semuanya ?? Ini tidak adil ..”
xxxxx
Yuki masih
berdiam diri di kamarnya . meringkuk diatas kasurnya dengan mata sembab. ia
masih shock atas berita yang didapatkannya dari Vino 2 hari yang lalu. Ia
terdiam membisu membuat kedua orang tuanya begitu khawatir dengan keadaannya.
Ia kemudian berjalan menuju meja belajarnya. Sepucuk surat berwarna merah yang
diberkan Vino. Dari Joe untuk Yuki.
Yuki membuka
surat itu perlahan dan mulai membacanya.
To. My Little Girl Yukiko Melody.
Hai ! lama kita tidak berjumpa. Sepertinya kau
terlihat lebih cantik sekarang. Haha .. Aku tidak bermaksud untuk menggombal.
Tapi kamu memang sangat cantik ditambah dengan senyuman manis yang mengembang
dan terlukis indah dibibirmu.
Yuki .. Jujur aku sangat merindukanmu .. Apa kau
tidak merindukanku ? Ya! Aku sudah tau jawabannya .. Ma’af selama ini aku tidak
memberi kabar padamu .. pasti kau sangat mengkhawatirkanku .. itu tidak perlu
Yuki ..
Yuki .. Kau pasti sudah mendengarnya dari mulut
Vino, saudara kembarku .. ma’af aku tidak menceritakan soal Vino padamu ..
Karena menurutku itu tidak terlalu penting karena Vino tinggal di London
bersama kedua orng tuaku .. sedangkan aku tinggal di desa dengan kakek nekekku
..
Nah, apa kau masih ingat saat kau melihatku
menagis di pinggir danau sendririan saat itu ? Sepertinya kau mulai
melupakannya .. baiklah akan kuceritakan .. Kau tau, saat itu aku sedang
memikirkan bagaimana kehidupanku nanti .. apakah aku masih bisa hidup atau tak
terselamatkan ..
Kau juga pasti sudah dengar juga dari Vino tentang
penyakitku .. Ya! Aku terkena penyakit kanker Otak ini sejah 5 tahun yang lalu
.. penyakit ini tiba-tiba datang menyerangku.. Awalnya aku merasa ini tidak
mungkin .. hingga Vino terus mendukungku .. walaupun kami dipisahkan oleh jarak
yang cukup jauh .. tapi dia selalu ada untukku ..
Berbeda lagi dengan kamu yang baru-baru ini ku
kenal .. Kau bisa membuatku melupakan penyakit ini sejenak .. walaupun rasa
sakit itu masih terasa .. namun kau selalu mengobatinya dengan senyuman manis
yang selalu kau ukir dibibirmu.
Seperti arti dari namamu. Kau bagaikan lagu yang
menemaniku disaat musim dingin datang. Disaat aku merasa tak kuat menjalani
hidup ini .. kau datang dan memberikan kekuatan padaku .. menghiburku dengan
tawa dan candamu yang bagaikan alunan melody indah..
Apakah kata-kataku terlalu ‘puitis’ ?? haha ..
tapi itu memang kenyataan yang terjadi ..
Yuki .. bisakah aku mengatakan sesuatu padamu ..
perasaan yang ada di dalam hatiku .. sebelum aku benar-benar pergi dari dunia
ini ..
Aku sangat menyukaimu, Yuki ..
Tapi aku sadar .. kata-kata itu tidak ada guanya
lagi .. semua sudah terlambat .. walau tak sepenuhnya terlambat .. Aku sadar,
Kata cinta belum pantas untuk anak seumuran kita.. tapi biarkan kata ini tetap
menjadi makna terhadap persaanku kepadamu. Cinta tak harus memiliki, jadi
biarkanlah cinta ini kusimpan dihatiku yang sudah terkubur bersama jasadku
nantinya.
Yuki .. bisakah kau mengabulkan permintaan
terakhirku ini ?? Aku ingin kau terlalu tersenyum dan bahagia walau tidak ada
aku .. aku tidak ingin kau menangis lagi .. karena senyumanmu adalah kekuatanku
..
Dan bisakah .. kau melupakan aku dan memulai
hidup baru .. menangisi kepergianku dan kakekmu bukanlah alasan yang tepat
untukmu selalu bersedih dan terpuruk .. Kau bisa hidup lebih baik tanpa ada aku
.. ku mohon ..
Ma’af aku tak menceritakan semua masalahku padamu
.. aku punya alasan untuk itu .. Aku tidak ingin kamu berteman denganku hanya
karena kamu kasihan padaku .. aku hanya ingin kamu berteman denganku dengan
tulus .. hanya itu ..
Baiklah .. ini kata-kata terakhirku ..
Yuniko Melody, Aku sangat mencintaimu dan akan
selalu mencintaimu selamanya ... Dan disaat aku benar-benar pergi .. aku ingin
semua orang yang kusanyangi tetap berbahagia walau tak ada diriku disana..
From. You Friend Joenathan Shone
Yuki menangis
.. Wajahnya mulai basah .. jantungnya seperti terhantam oleh batu karang yang
sangat besar .. begitu menyakitkan .. Andai ia lebih cepat menyadari
perasaannya.
“Aku juga
sangat mencintaimu Joe .. Kau benar .. tidak ada gunanya terus terpuruk seperti
ini .. Baiklah, aku akan mencoba memenuhi permintaanmu, Joe .. aku janji ..
Sebagai seorang teman..” ucap Yuki lalu mulai menyeka air matanya.
Ia mulai
tersenyum samar. Ia menuju jendela kamaranya dan menatap bintang-bintang penuh
harap. Ia memejamkan matanya sambil tersenyum .. ia mencoba untuk menenangkan
pikirannya. Angin malam mulai berhembus menerobos masuk kedalam kamar Yuki.
Yuki
tersenyum dan mulai menikmati dinginnya angin malam itu dengan wajah yang
disinari cahaya bulan. Disertai bayangan senyuman Joe disana.
xxxxx
“Hei ! Yuki
... kamu sedang apa disana .. aku lelah mencarimu kemana-mana .. ternyata kau
berada di taman ini .. untung ibumu memberitahuku .. eh, kamu kenapa menagis ?
apa ada yang salah ? Apa kamu sedang bertengkar dengan Vino itu ? ceritakan
padaku ..” ucap seorang gadis manis kepada temannya yang bernama Yuki itu ..
“Ya! Aku
tidak apa-apa .. hanya .. Ehem .. baiklah .. ayo kita kerumahku .. kuharap
ibuku sedang memanggang cookies untukmu, Claudia ..” ajak Yuki sambil beranjak
dari kursi taman itu.
“Hah ? Apa
benar ? baiklah .. ayo kita kerumahmu .. aku tidak sabar ingin memakan cookies
buatan ibumu yang lezat itu..” jawab gadis manis yang bernama Claudia itu. Yuki
hanya tersenyum. Sambil mengingat janjinya kepada Joe dimasa lalu.
Sebelum pergi
tidak lupa Yuki menggenggam erat buku diary masa kecilnya itu .. Diary yang
mengingatkannya akan kenangan bersama orang-orang yang ia sayangi ..
Dan cerita didlam
diary itu telah menjadi ..
Kenang-kenangan
..
THE END ~~
Yak !! typo yang
awalnya bertebaran dimana-mana sudah dibrantas, insya allah habis (??) #gaje
ahh. Mohon dimaklumi karena banyak kekurangan didalamnya. Ahai ! jangan lupa
dikritik bila ada yang mengganjal. Sippoke!! Trimakasih sudah membaca.
Sedikit gambaran dari author :
Diary Yuki
![]() |
| Reminscence Lake |


0 komentar:
Posting Komentar