Stasiun TV kini digunakan sebagai salah satu media dalam berkampanye saat menjelang pilkada. Tiap stasiun TV memiliki perhitungan seperti quick count pada tiap calonnya. Tak dipungkiri dibalik tingginya jumlah pemilih pada tiap calon didasari oleh pemihakan pada stasiun TV yang telah dipengaruhi oleh partai politik. Menjadikan stasiun TV yang harusnya menjadi pihak netral malah berbalik dan berpihak pada salah seorang calon yang memiliki kesamaan partai politik
Kini statiun TV tidak hanya digunakan sebagai hiburan bagai masyarakat, namun juga dijadikan sebagai permainan politik bagi berbagai oknum yang memegang kendali dalam sebuah stasiun TV tersebut. TV seharusnya membuat program yang menghibur masyarakat seperti traveling atau acara permainan. Namun pada masa sekarang, televisi dipengaruhi oleh politik dari pemegang saham yang kebanyakan merupakan pengikut partai politik tertentu.
Di era modren kampanye dapat dilakukan dimana saja dan dengan media apa saja, tidak terkecuali TV. kini tiap televisi memiliki keterpihakan pada partai politik sendiri. Semisal stasiun TV A yang mendukung parpol Bunga Matahari makan stasiun TV A hanya akan menampilkan berita positif dari parpol Bunga Matahari itu saja tanpa menyinggung hal negatifnya. Begitu pula yang terjadi pada stasiun TV C yang hanya akan menampilkan berita positsif dari parpol yang didukungnya.
Kesimpulannya, pada dewasa ini stasiun TV bukan merupakan media netral yang keakuratannya dapat dipercaya begitu saja oleh masyarakat. Rekomendasi dari saya, masyarakat harus lebih pintar dan selektif lagi dalam mengambil kesimpulan dalam tayangan stasiun TV. Jangan mudah terpengaruh oleh berbagai provokasi. Sehingga tidak menyebabkan kerusuhan dan salah paham dalam negeri ini.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar